Skip to main content
x
Harga Kebun Sawit di Mukomuko Terus Naik (Ari/Mediasinardunia.com)

Harga Kebun Sawit di Mukomuko Terus Naik, Warga Kesulitan Membeli Tanah

Mukomuko, Mediasinardunia.com - Berbeda dengan harga tandan buah segar (TBS) yang rutin mengalami kenaikan dan penurunan, harga kebun sawit di Kabupaten Mukomuko terus menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa tahun terakhir.

Harga kebun sawit dan lahan kosong lebih dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti jarak, kondisi tanaman, dan kelengkapan surat-suratnya, termasuk sertifikat.

Untuk kebun sawit yang dekat dengan desa atau jalan aspal, harganya bisa mencapai Rp 250 juta per hektare, bahkan lebih, jika kondisi lahan dan tanamannya baik. Sementara itu, kebun sawit yang letaknya agak jauh, tetapi memiliki sertifikat dan dekat dengan jalan koral atau jalan poros perkebunan, dihargai sekitar Rp 150 juta per hektare. Kebun dengan lokasi yang lebih jauh bisa dihargai sekitar Rp 75 juta per hektare sebagai harga terendah.

Kepala Desa Sungai Lintang, Haryanto, menyatakan bahwa saat ini tidak ada lagi kebun sawit di desa mereka yang harganya di bawah Rp 200 juta. Khusus untuk lokasi yang dekat, harganya bisa mencapai Rp 300 juta. "Di desa kami, tidak ada kebun yang terlalu jauh, semuanya masih dikategorikan dekat. Jadi, harga kebun sawit sekarang tidak ada yang di bawah Rp 200 juta. Di desa lain mungkin berbeda, bahkan bisa lebih murah. Untuk desa kami, jika dekat dari desa atau jalan utama, harganya bisa Rp 300 juta," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sungai Ipuh, Burzan, juga memberikan keterangan bahwa di wilayah Sungai Ipuh dan Selagan Raya, harga kebun sawit terendah adalah Rp 120 juta. Harga itu berlaku untuk lokasi kebun yang tidak terlalu jauh. Untuk lokasi yang sedikit lebih jauh dengan akses jalan yang masih minim, harga berkisar sekitar Rp 80 juta.

"Kalau dekat harganya di atas Rp 120 juta. Untuk yang jauh, mungkin masih ada yang Rp 80 juta per hektare. Namun, harga juga tergantung pada kondisi kebun dan lahan," paparnya.

Wahyu, seorang warga setempat, mengatakan bahwa harga kebun di wilayah Mukomuko sudah sangat tinggi, sehingga cukup sulit untuk membeli. Bahkan, lahan kosong saja dihargai mencapai Rp 100 juta per hektare.

Oleh karena itu, ia lebih memilih mencari kebun di wilayah Silaut, Pesisir Selatan, karena harga di sana masih di bawah Rp 100 juta untuk lokasi yang sedikit lebih ke dalam. "Membeli lahan kosong sebenarnya sama, karena biaya pengolahan lahan hingga tanam cukup tinggi. Harga bibit saja sekarang mencapai Rp 60 ribu per batang," ungkapnya.

"Jika di Kabupaten Mukomuko sudah berat mencari kebun yang terjangkau, jika pun ada yang murah, kemungkinan besar sudah masuk kawasan HPT," tutupnya.